• HOAX


    A.   Apa itu HOAX??

    Hoax adalah suatu kejadian yang di buat -  buat atau dengan kata lain yaitu adalah karangan belaka. Hoax biasanya diartikan dengan berita bohong, tidak nyata atau wacana belaka .karena kurangnya pemhaman informasi dan pengetahuan, akhirnya di gembor gemborkan , seolah olah berita itu nyata dan berita tersebut benar, padahal berita tersebut adalah berita palsu. Penyebaran hoax di Indonesia mulai marak sejak media social mulai popular digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ini disebabkan sifat dari media sosial yang memungkinkan akun anonim untuk berkontribusi, juga setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, punya kesempatan yang sama untuk menulis. Beberapa orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan celah ini untuk mengakses media social yang bersifat negative, yaitu menyebarkan berita palsu, memfitnah , menghasutdan hoax.
    Kata hoax sendiri muncul pertama kali dari sebuah film yang berjudul the hoax.TheHoax adalah sebuah film drama Amerika 2006 yang disutradarai oleh Lasse Hallstrom yang diskenario oleh William Wheeler. Film ini dibuat berdasarkan buku dengan judul yang sama oleh Clifford Irving dan berfokus pada biografi Irving sendiri,serta Howard Hughes yang dianggap membantu Clifford Irving. Banyak kejadian yang diuraikan Irving dalam bukunya yang diubah atau dihilangkan dari film, dan penulis kemudian berkata, saya dipekerjakan oleh produser sebagai penasihat teknis film, tapi setelah membaca naskah terakhir saya meminta agar nama saya dihapus dari film itu, ungkin disebabkan karna plot naskah tak sesuai dengan novel aslinya. Sejak itu, film hoax dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan, sehingga kemudian banyak kalangan terutama para netter yang menggunakan istilah hoax untuk menggambarkan suatu kebohongan, lambat laun, penggunaan kata hoax di kalangan netter makin gencar. Bahkan digunakan oleh netter di hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia (Jingga, http://www.mediaindonesia.com/news, 01 Agustus 2012 diunduh 13 Pebruari 2017).
    Sejak pertengahan tahun 2014 secara berangsur-angsur meningkat, masyarakat dihebohkan dengan munculnya banyak sekali informasiinformasi di media sosial yang bersifat hoax. Gelombang mengemukanya fenomena berita-berita hoax, berita yang diada-adakan alias palsu di berbagai media, terutama media sosial terjadi pada tahun 2016 lalu. Saking menonjolnya berita hoax, banyak yang berspekulasi bahwa kita hidup dalam masyarakat di mana kejujuran bertindak dan kejernihan berpikir telah hilang. Sebaliknya, saling tidak percaya dan curiga menjadi sesuatu yang wajar. Hoax ini semakin parah jika masuk waktu pilkada dan pemilu. Masyarakat menggunkanan media social sebagai alat untuk menghasut pengguna media social untuk memilih slah satu pasangan calon, dan membuat berita hoax paslon untuk tidak memilih paslon tersebut.

    B.   PEMBAHASAN

    Mengembangkan Model Literasi Media yang Berkebhinnekaan dalam Menganalisis Informasi Palsu (Hoax) di Media Sosial 

    Masifnya peredaran informasi palsu (hoax) melalui media sosial hendaknya menyadarkan para pengelola media arus utama untuk bekerja lebih profesional dengan standar jurnalistik tinggi. Masyarakat butuh rujukan informasi yang terpercaya dan pada sisi itulah media massa dapat menjawabnya melalui suguhan informasi yang terverifikasi. Media massa harus memperjelas fungsinya sebagai penyaji fakta empiris dan kebenaran.
    Fungsi utama kerja media massa adalah membuat masyarakat memiliki informasi yang memadai tentang sebuah peristiwa dan fenomena. Fungsi semacam itu hanya bisa dipenuhi jika media massa terus menyajikan fakta-fakta empiris. Informasi dari media sosial yang belum jelas kadang begitu saja dirujuk dan dikutip media massa arus utama dalam pemberitaan mereka. Berita itu kemudian bergulir menjadi viral dan menjadi lingkaran setan.
    Upaya ini telah banyak digunakan dalam masyarakat yang rawan konflik kekerasan (Osler dan Starksey, 2005). Salah satu tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran tentang hak-hak politik, sosial dan budaya individu dan kelompok, termasuk
    kebebasan berbicara dan tanggung jawab dan implikasi sosial yang muncul. 
    Dalam beberapa kasus, argumentasi yang efektif dan keterampilan yang diperlukan untuk mengartikulasikan keyakinan dan pendapat pribadi secara bermartabat telah dimasukkan sebagai salah satu hasil belajar pada program pendidikan kewarganegaraan.
    Jenis-jenis Informasi Hoax
    1. Fake news: Berita bohong: Berita yang berusaha menggantikan berita yang asli. Berita ini bertujuan untuk memalsukan atau memasukkan ketidakbenaran dalam suatu berita. Penulis berita bohong biasanya menambahkan hal-hal yang tidak benar dan teori persengkokolan, makin aneh, makin baik. Berita bohong bukanlah komentar humor terhadap suatu berita. 
    2. Clickbait: Tautan jebakan: Tautan yang diletakkan secara stategis di dalam suatu situs dengan tujuan untuk menarik orang masuk ke situs lainnya. Konten di dalam tautan ini sesuai fakta namun judulnya dibuat berlebihan atau dipasang gambar yang menarik untuk memancing pembaca.
    3. Confirmation bias : Bias konfirmasi: Kecenderungan untuk menginterpretasikan kejadian yang baru terjadi sebaik bukti dari kepercayaan yang sudah ada.
     4. Misinformation: Informasi yang salah atau tidak akurat, terutama yang ditujukan untuk menipu.
     5. Satire: Sebuah tulisan yang menggunakan humor, ironi, hal yang dibesar-besarkan untuk mengkomentari kejadian yang sedang hangat. Berita satir dapat dijumpai di pertunjukan televisi seperti “Saturday Night Live” dan “This Hour has 22 Minutes”.
    6. Post-truth: Pasca-kebenaran: Kejadian di mana emosi lebih berperan daripada fakta untuk membentuk opini publik. 
    7. Propaganda: Aktifitas menyebar luaskan informasi, fakta, argumen, gosip, setengah-kebenaran, atau bahkan kebohongan untuk mempengaruhi opini publik.



    C.   CONTOH
     Pilgub DKI 2012, dan mencapai puncak tertinggi sementara, yaitu ketika Pilpres 2014 dan berlangsung hingga sekarang tahun 2017 saat pilkada serentak digelar secara nasional. netizen menyaksikan sendiri, betapa brutalnya penyebaran fitnah kepada tokohtokoh yang berlaga di ajang pemilihan. Bahkan merembet ke insitusi seperti KPU, MK, dan aparat keamanan.




    Referensi:

    Heryanto Gun Gun ,dkk.2017. MELAWAN HOAX DI MEDIA SOCIAL DAN MEDIA MASSA.TRUST MEDIA,ASKOPIS PRESS.


    Juliswara Vibriza. 2017. MENGEMBANGKAN MODEL LITERASI MEDIA YANG BERKEBHINNEKAAN DALAM MENGANALISIS INFORMASI BERITA PALSU (HOAX) DI MEDIA SOSIAL. Volume 4  No. 2 , Agustus  2017. Diambil dari (https://jurnal.ugm.ac.id/jps/article/download/28586/pdf)

    Rahadi Dedi Rianto. 2017.PERILAKU PENGGUNA DAN INFORMASI HOAX  DI MEDIA SOSIAL  .vol.5 no.1 2017 Diambil dari (http://ravii.staff.gunadarma.ac.id/Publications/files/3552/ANALISIS+PENYEBARAN+BERITA+HOAX++DI+INDONESIA.pdf)

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Comments

Facebook

Ad Home

Follow Us

Random Posts

Sponsor

Recent Posts

Header Ads

laman

About

BTemplates.com

BTemplates.com

Blogroll

Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts